Di sebuah wilayah terpencil di Jawa bagian timur, terdapat sebuah hutan lebat yang masyarakat sekitar menyebutnya Hutan Senja. Nama itu bukan tanpa alasan. Konon, setiap kali matahari mulai tenggelam, cahaya jingga yang menembus sela pepohonan menciptakan suasana magis sekaligus menyeramkan.
Cerita tentang hutan ini sudah turun-temurun. Para orang tua sering memperingatkan anak-anak agar tidak bermain terlalu jauh ke dalam hutan. Bukan hanya karena binatang buas, tetapi karena ada legenda tentang sebuah desa yang pernah berdiri di balik pepohonan raksasa itu — sebuah desa yang hilang tanpa jejak.
Menurut cerita, desa itu bernama Karangjati. Puluhan tahun lalu, Karangjati dikenal sebagai desa yang makmur. Sawahnya luas, hasil panennya melimpah, dan warganya hidup rukun. Namun, pada suatu malam yang aneh, seluruh desa itu menghilang begitu saja. Ketika pagi menjelang, orang-orang dari desa tetangga hanya mendapati hamparan hutan tebal, seolah-olah Karangjati tidak pernah ada.
Sebagian orang percaya desa itu terkena kutukan. Ada pula yang mengatakan warganya sengaja berpindah ke dunia lain karena melanggar sebuah janji leluhur. Hingga kini, belum ada yang bisa membuktikan kebenaran cerita tersebut.
Namun, kisah ini kembali mencuat ketika seorang mahasiswa sejarah bernama Ardi melakukan penelitian di daerah itu. Awalnya ia hanya ingin menulis skripsi tentang kebudayaan desa-desa tua di Jawa. Akan tetapi, setelah mendengar bisikan warga tentang Karangjati, ia merasa tertarik.
Ardi kemudian memutuskan untuk menelusuri hutan bersama dua temannya. Mereka berangkat sore hari, tepat ketika matahari mulai condong ke barat. Suasana hutan yang teduh berubah perlahan menjadi misterius. Cahaya jingga menembus ranting, angin membawa suara-suara aneh, seolah ada yang mengawasi.
Setelah berjalan hampir satu jam, mereka menemukan sebuah batu besar berbentuk seperti gapura. Di batu itu tertulis aksara Jawa kuno. Ardi segera mengabadikan dengan kameranya. Namun, tiba-tiba suasana berubah. Hutan mendadak sunyi. Tidak ada suara burung, tidak ada suara jangkrik. Yang terdengar hanya hembusan napas mereka sendiri.
Seketika itu, dari balik pepohonan, tampak samar-samar siluet rumah-rumah kayu. Semakin lama semakin jelas. Tiga mahasiswa itu saling menatap dengan wajah pucat. “Apakah ini… Desa Karangjati?” bisik salah satu dari mereka.
Belum sempat menjawab, tiba-tiba terdengar suara gamelan dari arah desa. Suara itu semakin keras, seolah mengundang mereka untuk masuk. Ardi memberanikan diri melangkah, namun saat kakinya menapaki tanah desa, tubuhnya serasa ditarik oleh kekuatan yang tak terlihat. Dunia berputar, cahaya jingga berubah menjadi gelap pekat.
Ketika sadar, mereka bertiga sudah berada kembali di pinggir hutan, tepat di jalan desa awal mereka masuk. Kamera Ardi rusak, baterainya meleleh, dan file dokumentasi hilang.
Sejak hari itu, Ardi tidak pernah lagi membicarakan tentang Karangjati. Tetapi satu hal yang tidak bisa ia bantah: di dalam mimpinya, ia masih sering mendengar suara gamelan dari arah hutan senja.

0 Komentar